Kenali 5 Game Esport Terpopuler dan Potensi Bisnisnya untuk Entrepreneur

Bayangkan sebuah industri yang menghasilkan lebih dari $1,8 miliar per tahun dan terus tumbuh dua digit setiap musimnya. Bukan saham, bukan kripto—melainkan esport.

Banyak pebisnis pemula dan entrepreneur yang masih memandang sebelah mata dunia gaming kompetitif ini. Padahal, esport bukan sekadar hiburan. Ini adalah ekosistem bisnis raksasa yang melibatkan sponsorship, merchandise, streaming platform, hingga investasi tim profesional.

Artikel ini akan membedah 5 game esport terpopuler tahun ini yang tidak hanya menghibur jutaan pemain, tetapi juga membuka pintu peluang bisnis yang menggiurkan. Jika kamu mahasiswa yang ingin membangun startup, atau entrepreneur yang mencari celah pasar baru, informasi ini wajib kamu simak.


1. League of Legends (LoL) – Raja Esport yang Tak Tergoyahkan

League of Legends tetap bertengger di puncak sebagai game esport paling populer dan menguntungkan secara ekonomi. Dirilis oleh Riot Games, game MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) ini memiliki basis pemain aktif lebih dari 180 juta per bulan di seluruh dunia.

Turnamen resmi seperti World Championship selalu menyedot perhatian global dengan total hadiah mencapai puluhan juta dollar. Pada 2024, final LoL Worlds ditonton oleh lebih dari 6,4 juta penonton secara bersamaan di berbagai platform streaming. Angka ini bahkan mengalahkan rating acara TV olahraga konvensional di beberapa negara.

Dari sisi bisnis, LoL membuka peluang besar di bidang merchandise, konten kreator, coaching, dan event organizer. Banyak entrepreneur muda yang membangun bisnis sampingan dengan menjadi caster, membuka jasa boost rank, atau bahkan menjual akun dengan skin langka. Ekosistem ekonomi di sekitar LoL sangat matang dan terus berkembang.


2. Dota 2 – Turnamen dengan Hadiah Terbesar di Dunia Esport

Jika bicara soal total hadiah turnamen, tidak ada yang mengalahkan Dota 2. The International, turnamen tahunan Dota 2, secara konsisten menawarkan hadiah lebih dari $40 juta—rekor yang belum terpecahkan oleh game lain. Tahun ini, TI12 kembali membuktikan daya tariknya dengan prize pool yang fantastis.

Game besutan Valve ini memang memiliki kurva belajar yang curam, tetapi justru di situlah letak peluangnya. Kompleksitas Dota 2 menciptakan demand tinggi untuk konten edukasi, guide, coaching premium, dan analisis pertandingan profesional. Para content creator di YouTube dan Twitch yang fokus pada Dota 2 sering kali mendapatkan engagement lebih tinggi dibanding game lain.

Selain itu, Dota 2 juga memiliki sistem battle pass yang sangat menguntungkan bagi Valve sekaligus menciptakan ekosistem trading item in-game. Banyak pebisnis yang memanfaatkan Steam Market untuk jual-beli item Dota 2 dengan margin keuntungan cukup menjanjikan. Pasar sekunder Dota 2 adalah salah satu yang paling likuid di antara semua game esport.


3. Counter-Strike 2 (CS2) – Evolusi Legendaris FPS Esport

Counter-Strike 2 adalah upgrade revolusioner dari CS:GO yang diluncurkan Valve pada 2023 dan terus mendominasi scene FPS esport hingga 2025. Game taktis berbasis tim ini memiliki fanbase setia yang telah bertahan lebih dari dua dekade. Turnamen seperti ESL Pro League, BLAST Premier, dan IEM rutin menarik jutaan viewers dan sponsor besar seperti Intel, Mercedes-Benz, dan DHL.

Yang membuat CS2 menarik dari perspektif bisnis adalah stabilitas dan longevity-nya. Berbeda dengan game yang bergantung pada update konten konstan, CS2 fokus pada skill murni dan strategi. Ini menciptakan ekosistem profesional yang sangat mature, dari tim organisasi, coach, analyst, hingga infrastruktur bootcamp.

Peluang bisnis di sekitar CS2 sangat beragam: tournament organizer lokal, internet cafe khusus gaming, jasa pembinaan tim esport, hingga produksi konten highlight. Banyak startup di Indonesia yang mulai fokus pada scene CS2 regional dengan menyediakan platform turnamen grassroot. Dengan investasi yang relatif terjangkau, entrepreneur bisa masuk ke ekosistem ini dan tumbuh bersama komunitas yang loyal.


4. Valorant – FPS Taktis dengan Sentuhan Modern

Valorant adalah jawaban Riot Games untuk para pemain FPS yang menginginkan sesuatu yang lebih fresh namun tetap kompetitif. Diluncurkan pada 2020, Valorant dengan cepat menjadi salah satu game esport tercepat berkembang dalam sejarah. Format turnamen resminya—Valorant Champions Tour (VCT)—sudah mencapai level internasional dengan franchising system yang mirip dengan liga olahraga profesional.

Yang membedakan Valorant dari CS2 adalah pendekatan hybrid: menggabungkan mekanik tembak-menembak klasik dengan ability unik setiap karakter (agent). Ini menciptakan meta permainan yang dinamis dan menarik bagi demografi yang lebih luas, termasuk pemain kasual yang ingin terjun ke dunia kompetitif.

Dari sisi bisnis, Valorant membuka peluang di content creation, coaching, skin trading, dan event marketing. Riot Games sangat agresif dalam mendukung ekosistem kreator dengan program partnership dan monetisasi yang jelas. Entrepreneur yang fokus pada digital marketing atau agensi talent bisa memanfaatkan momentum Valorant untuk membangun influencer esport dari nol. Pasar Asia Tenggara khususnya sangat potensial karena penetrasi Valorant yang masif di region ini.


5. Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) – Raja Esport Mobile di Asia Tenggara

Jangan salah, Mobile Legends: Bang Bang bukan sekadar game mobile biasa. Di Asia Tenggara, MLBB adalah fenomena budaya dengan lebih dari 100 juta pemain aktif bulanan. Turnamen resminya, MPL (Mobile Legends Professional League), memiliki viewership yang menyaingi turnamen PC game di region ini.

Indonesia sendiri adalah salah satu pasar terbesar MLBB di dunia. M-Series World Championship yang digelar setiap tahun memiliki total hadiah mencapai $900,000 dan ditayangkan di berbagai platform streaming dengan penonton puluhan juta. Aksesibilitas MLBB—yang bisa dimainkan di smartphone mid-range—menjadikannya pintu masuk utama generasi muda ke dunia esport.

Peluang bisnis di sekitar MLBB sangat luas dan relatif mudah diakses bagi pebisnis pemula. Mulai dari menjadi reseller diamond (in-game currency), membuka jasa joki rank, menjadi content creator TikTok/YouTube dengan highlight gameplay, hingga mengorganisir turnamen kampung atau kampus. Barrier to entry-nya rendah, tetapi potensi skalabilitasnya tinggi jika kamu bisa membangun brand dan komunitas yang kuat. Banyak entrepreneur muda yang memulai dari bisnis MLBB dan kemudian ekspansi ke game esport lainnya.


6. Apex Legends – Battle Royale dengan Skill Ceiling Tinggi

Apex Legends adalah game battle royale yang dikembangkan Respawn Entertainment dan diterbitkan EA. Berbeda dengan battle royale pada umumnya, Apex mengedepankan team coordination dan mekanik movement yang sangat skill-based. Ini menjadikannya salah satu game esport paling menarik untuk ditonton karena aksi-aksi spektakuler yang sering terjadi dalam pertandingan kompetitif.

Turnamen seperti Apex Legends Global Series (ALGS) menawarkan total hadiah tahunan lebih dari $5 juta dan format kompetisi yang unik dengan sistem poin berbasis placement dan kills. Scene profesional Apex terus berkembang dengan sponsor besar seperti Razer, HyperX, dan Monster Energy yang aktif mendukung tim-tim top.

Dari perspektif bisnis, Apex Legends membuka peluang di streaming content, coaching premium, dan merchandise. Game ini memiliki kurva tontonan yang tinggi karena sifat battle royale-nya yang penuh ketegangan. Content creator yang konsisten menggarap Apex bisa mendapatkan sponsorship dari brand peripheral gaming dengan relatif cepat. Selain itu, dengan EA sebagai publisher besar, ekosistem tournament organizer tier 2 dan tier 3 juga mulai banyak bermunculan—peluang bagus untuk entrepreneur yang ingin masuk ke event management esport.


7. PUBG Mobile – Pioneer Battle Royale Mobile yang Tetap Relevan

PUBG Mobile adalah game yang memopulerkan genre battle royale di platform mobile. Meski menghadapi kompetisi ketat dari game sejenis, PUBG Mobile tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu esport mobile terbesar dengan PMGC (PUBG Mobile Global Championship) yang menawarkan hadiah total lebih dari $4 juta setiap tahunnya.

Yang menarik dari PUBG Mobile adalah reach geografisnya yang sangat luas. Game ini populer tidak hanya di Asia Tenggara, tetapi juga di India (sebelum banned), Timur Tengah, Amerika Latin, dan bahkan Eropa Timur. Diversifikasi pasar ini menciptakan peluang bisnis yang tidak terbatas pada satu region saja.

Entrepreneur bisa memanfaatkan PUBG Mobile untuk berbagai model bisnis: affiliate marketing UC (in-game currency), content creation multi-platform, jasa lobby push rank, bahkan membangun komunitas clan yang kemudian dimonetisasi melalui membership premium atau merchandise. Dengan basis pemain yang masih sangat besar dan turnamen regional yang terus bermunculan, PUBG Mobile masih memiliki runway panjang sebagai esport mobile yang menguntungkan.


8. Overwatch 2 – Esport Hero Shooter dengan Liga Profesional

Overwatch 2 adalah evolusi dari Overwatch original yang diluncurkan Blizzard dengan model free-to-play. Game hero shooter ini memiliki Overwatch League (OWL), salah satu liga esport paling terstruktur dengan sistem franchise mirip NBA atau NFL. Meskipun mengalami beberapa tantangan dalam beberapa tahun terakhir, Overwatch 2 masih memiliki komunitas kompetitif yang kuat dan turnamen tier 2 yang aktif.

Format permainan Overwatch 2 yang team-based dan role-specific (tank, damage, support) menciptakan kedalaman strategi yang menarik baik untuk dimainkan maupun ditonton. Setiap meta patch bisa mengubah komposisi tim secara drastis, sehingga konten analisis dan guide selalu fresh dan in-demand.

Peluang bisnis di sekitar Overwatch 2 fokus pada content creation, coaching untuk competitive ladder, dan community building. Karena game ini membutuhkan koordinasi tim yang solid, banyak pemain yang mencari coach atau join discord community berbayar untuk meningkatkan skill. Entrepreneur yang memahami game mechanics Overwatch 2 bisa membangun layanan subscription coaching atau platform matchmaking untuk serious players. Dengan Blizzard yang terus committed pada esport ecosystem-nya, investasi di area ini bisa memberikan return jangka panjang.


9. Rocket League – Esport Unik dengan Konsep “Soccer Meets Cars”

Rocket League adalah game esport yang benar-benar unik: kombinasi sepak bola dengan mobil roket. Meskipun terdengar sederhana, skill ceiling Rocket League sangat tinggi dengan mekanik aerial play, rotation, dan teamwork yang kompleks. Game ini dikembangkan Psyonix (sekarang bagian dari Epic Games) dan memiliki Rocket League Championship Series (RLCS) dengan total hadiah tahunan mencapai jutaan dollar.

Yang membuat Rocket League menarik adalah aksesibilitas visualnya. Siapa pun bisa memahami goal = poin, sehingga game ini viewer-friendly bahkan untuk non-gamer. Ini menjadikannya pilihan menarik untuk brand sponsorship mainstream yang ingin masuk ke esport tetapi khawatir dengan kompleksitas game lain.

Dari sisi bisnis, Rocket League membuka peluang di tournament organizing, content creation tutorial, dan custom training pack services. Karena skill improvement di Rocket League sangat terukur dan visual, banyak pemain yang bersedia membayar untuk coaching one-on-one atau workshop grup. Entrepreneur dengan background di pendidikan atau training bisa memanfaatkan model ini. Selain itu, Rocket League juga memiliki sistem trading item yang aktif, menciptakan ekonomi sekunder yang bisa dimanfaatkan untuk bisnis jual-beli in-game items.


10. Free Fire – Esport Mobile dengan Jangkauan Emerging Market Terluas

Free Fire dari Garena adalah game battle royale mobile yang mendominasi emerging markets seperti Amerika Latin, India, Asia Tenggara, dan Afrika. Meskipun sering dianggap “ringan” dibanding PUBG Mobile, Free Fire justru memiliki keunggulan dalam aksesibilitas—bisa dimainkan smooth di smartphone entry-level dengan RAM 1-2 GB.

Turnamen Free Fire World Series (FFWS) adalah salah satu event esport mobile terbesar dengan hadiah lebih dari $2 juta dan viewership mencapai puluhan juta di YouTube dan platform streaming lokal. Free Fire juga sangat aktif dalam grassroots development, mendukung turnamen lokal dengan prize pool yang cukup untuk menarik partisipasi massal.

Peluang bisnis Free Fire sangat cocok untuk entrepreneur dengan budget terbatas. Kamu bisa mulai dengan menjadi reseller diamond, membuat konten TikTok/YouTube Shorts dengan gameplay highlights, atau mengorganisir turnamen RT/RW dengan biaya pendaftaran terjangkau. Barrier to entry sangat rendah, dan dengan komunitas yang sangat engaged terutama di kalangan Gen Z, potensi pertumbuhan organik sangat tinggi. Banyak content creator Free Fire yang mencapai ratusan ribu subscriber hanya dalam 6-12 bulan dengan konsistensi upload dan strategi konten yang tepat.


Kesimpulan

Industri esport bukan lagi sekadar permainan anak-anak. Ini adalah ekosistem bisnis bernilai miliaran dollar yang terus berkembang dengan kecepatan eksponensial. Dari 10 game esport terpopuler di atas, setiap satu membuka peluang bisnis yang berbeda—mulai dari yang membutuhkan investasi besar seperti franchise tim profesional, hingga yang bisa dimulai dengan modal minim seperti content creation atau jasa coaching.

Bagi pebisnis pemula, entrepreneur, dan mahasiswa yang ingin terjun ke industri ini, kuncinya adalah memilih niche yang sesuai dengan passion dan resource yang kamu miliki. Jangan ragu untuk memulai dari kecil: mungkin dengan membuat konten edukasi, mengorganisir turnamen lokal, atau bahkan menjadi reseller in-game currency.

Industri esport masih sangat muda dan penuh peluang. Ini adalah waktu yang tepat untuk masuk sebelum pasar menjadi terlalu saturated.

Apakah kamu sudah punya ide bisnis dari salah satu game di atas? Bagikan di kolom komentar dan mari diskusi bersama! Jangan lupa share artikel ini ke teman-teman entrepreneur kamu yang butuh inspirasi bisnis baru.

Leave a Comment